Kamis, 26 Januari 2012

Douwes Dekker si Multatuli pengarang Max Havelaar yang Luar Biasa

   Di dalam buku pelajaran IPS kelas V, ada pelajaran tentang perjuangan para pejuang Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan. Mulai dari yang bersifat kedaerahan, sampai yang bersifat pergerakan nasional. Dan saya kemudian menemukan Douwes Dekker, si orang Belanda yang berjuang untuk melawan penjajah, meski sebenarnya ia adalah orang Belanda.





   Eduard Douwes Dekker adalah mantan residen Lebak, Banten (daerah yang sekarang ramai jadi buah bibir karena jembatan maut ala "Indiana Jones"nya). Ia dikirim oleh kolonial Belanda dalam upaya membangun perdagangan kopi. Di Lebak, kesadaran Douwes Dekker seakan dipertaruhkan, ia melihat ketidakadilan dan ingin membantu rakyat Lebak bangkit dari kemiskinan.
   Dari pergaulan yang liat dengan rakyat, Douwes Dekker menyaksikan para Demang kerap melakukan kecurangan dan pemerasan. Para Demang itu berada dalam pengaruh Bupati Lebak. Douwes Dekker mengendus gelagat korupsi, bukan main geramnya. Ia berjanji melindungi rakyat Lebak, asalkan jujur mengemukakan persoalan yang menimpa. Nyatanya tak satu pun rakyat Lebak yang  berani  bicara, hingga dua orang anak bernama Saidjah dan Adinda mengungkap kebenaran padanya.
   Douwes Dekker coba menyelesaikan persoalan itu, berharap bantuan dari  atasannya di Batavia. Justru Douwes Dekker dipindah tugaskan ke wilayah Ngawi, Jawa Timur. Ia menyesalkan keputusan sepihak itu, dan memilih mundur sebagai protes pada pemerintah Hindia Belanda.
   Douwes Dekker juga berusaha menemui Gubernur Jenderal di Bogor, karena dianggap lebih bijak dalam membantu rakyat Lebak. Alhasil nihil, Douwes Dekker tidak mendapat bantuan apapun. Selain dicap sebagai idealis semata. Akhirnya ia hanya mampu membantu dan berjuang di balik layar. Ia pun menulis buku dengan nama pena Multatuli yang artinya "aku yang menderita".

   Max Havelaar adalah sebuah novel karya Multatuli (nama pena yang digunakan penulis Belanda Eduard Douwes Dekker). "Max Havelaar" adalah nama tokoh dalam buku tersebut. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1860, yang diakui sebagai karya sastra Belanda yang sangat penting karena memelopori gaya tulisan baru.
   Novel ini terbit dalam bahasa Belanda dengan judul asli "Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij" (bahasa Indonesia: "Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda")
   Roman ini hanya ditulis oleh Multatuli dalam tempo sebulan pada tahun 1859 di sebuah losmen di Belgia. Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1860 roman itu terbit untuk pertama kalinya.
   Buku ini telah diterjemahkan di 40 bahasa dan difilmkan baik dalam bahasa Belanda maupun Indonesia. Menceritakan ketimpangan pemerintahan Hindia-Belanda di abad ke-19, tapi pesan Multatuli masih tetap berlaku hingga saat ini. Namun film Max Havelaar sempat dicekal dan tidak boleh ditayangkan di Indonesia di zaman pemerintahan Orde Baru-nya  Soeharto.
   "Dan kepada tuan saya mempersembahkan buku ini, Willem III, raja, adipati besar, pangeran dan kaisar dari Insulinde yang cantik dan kaya, Jamrud Khatulistiwa, karena di tempat itu lebih dari 30 juta rakyatmu dianiaya dan diperas atas nama tuan" itulah kutipan dari halaman terakhir dari buku Max Havelaar.

   Di Indonesia, karya ini sangat dihargai karena untuk pertama kalinya inilah karya yang dengan jelas dan lantang membeberkan nasib buruk rakyat yang dijajah. Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputra di daerah Lebak, Banten. Max Havelaar adalah karya besar yang diakui sebagai bagian dari karya sastra dunia. Di salah satu bagiannya memuat drama tentang Saijah dan Adinda yang sangat menyentuh hati pembaca, sehingga sering kali dikutip dan menjadi topik untuk dipentaskan di panggung.
   Hermann Hesse dalam bukunya berjudul: Die Welt Bibliothek (Perpustakaan Dunia) memasukkan Max Havelaar dalam deret buku bacaan yang sangat dikaguminya. Bahkan Max Havelaar sekarang menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah menengah di Belanda. Banyak guru yang telah membaca terbitan terbaru, antusias murid-murid mereka lebih dapat mengerti pesan yang ingin disampaikan Multatuli. Tetapi apakah Eduard Douwes Dekker menyetujui bahwa bukunya ditulis kembali dan ada bagian yang dikurangi? Salah seorang penulis Belanda ternama Harry Mulisch mengatakan, "Saya tidak akan pernah mau, buku saya ditulis atau digubah kembali seperti Max Havelaar".
    Isi buku ini memberitahukan kita bahwa memang korupsi adalah peninggalanVOC yang sudah mendarah daging sejak zaman penjajahan Belanda, baik yang kulit putih maupun kulit coklat.


Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Berikan komentar anda..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...